Beranda » Teladan Nabi Yusuf

Teladan Nabi Yusuf



PEMUDA adalah sosok yang sangat potensial. Maka, tidak salah jika Bung Karno mengungkapkan bahwa jika ia diberikan sepuluh orang pemuda, maka akan digoncangkan dunia ini. Ungkapan ini menjadi barometer bahwa pemuda memang sosok yang perlu diperhatikan. Pemuda layaknya bibit yang perlu dijaga sehingga nantinya jika besar akan menghasilkan buah yang banyak dan bermanfaat bagi orang banyak. Pemuda juga menjadi penerus tongkat estafet orang-orang yang telah mendahuluinya. Dengan demikian, pemuda perlu dibina dan digodok segala potensi yang ada pada dirinya.

Bagaimanapun setiap kita yang sudah dewasa dari segi umur telah mengetahui pergaulan remaja dewasa ini yang identik dengan pergaulan bebas. Entahlah, apakah ini menjadi tren dalam bergaul remaja atau memang sudah menjadi hal yang lumrah dan lazim terjadi yang membuat kita harus memaklumi atas segala bentuk pergaulan yang dilakukan oleh remaja.

Pergaulan remaja di dunia khususnya di Indonesia saat ini sungguh begitu bebas. Tidak perlu langsung melihat bagaimana cara remaja bergaul di TKP. Secara tidak langsung televisi dan media-media lainnya telah memaparkan secara gamblang bagaimana cara remaja bergaul melalui siaran-siarannya yang cenderung pro dengan pergaulan bebas.

Meskipun banyak kecaman, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pergaulan bebas remaja saat ini tidak lagi menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan karena memang pergaulan bebas remaja tetap saja berjalan dan seolah kita juga ikut-ikutan setuju dengan pergaulan bebas remaja. Entahlah! Semoga kita tidak termasuk salah satu dari orang-orang yang terjerat dalam jaring pergaulan bebas!

Bung Karno mengungkapkan “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika, patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

Jika di bagian awal mengungkapkan makna pemuda secara umum. Namun sekarang redaksi laki-laki dan perempuan yang maksudnya pemuda-pemudi secara spesifik diungkapkan jelas oleh Bung Karno menjadi dua sosok yang perlu seimbang dalam segala hal, seperti dalam hal pembangunan negeri tercinta Indonesia. Pendahulu kita mengharapkan agar kita tidak terkotori dengan hal-hal yang yang tidak diinginkan.

 Paling tampan
Kisah Nabi Yusuf as tepat menjadi tolak ukur atau barometer pemuda dan pemudi dalam bergaul. Kita tentu sudah mengetahui jika Nabi Yusuf dijuluki dengan orang yang paling tampan sejagat raya ini. Di balik ketampanannya terdapat ketundukannya sebagai seorang hamba terhadap penciptanya Allah swt. Ketampanannya tidak digunakan sebagai trik bulus untuk menarik simpatik kaum hawa untuk memperoleh kesenangan sesaat semata. Ia (Nabi Yusuf as) mampu memproteksi dirinya agar tidak terjerumus ke dalam jeratan Zulaikha ibu angkatnya yang terpikat kepadanya akibat godaan setan dan nafsunya.

Maka, wajar jika Zulaikha menggodanya dan mengancamnya agar mau mengikuti perintahnya yang bejat itu. Bagaimanapun, karena Nabi Yusuf as manusia biasa, ia juga sempat tergoda dengan kecantikan Zulaikha yang membuatnya juga ingin laikha berbuat hal yang dilarang itu. Namun, untungnya, ia meyakini bahwa Allah swt Mahamelihat, sehingga ia berpaling dari Zulaikha.

Nabi Yusuf as tetap teguh dengan pendiriannya sehingga ia pun dimasukkan ke dalam penjara bersama dua tahanan lainnya. Ia berkata sebagaimana dinukilkan dalam Alquran: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. Yusuf: 3). Sungguh betapa Nabi Yusuf as begitu teguh dengan pendiriannya yang membuatnya mampu keluar dari jeratan zina bersama Zulaikha.

Kisah dua peran yang telah dipaparkan jelas bahwa memang pemuda-pemudi harus mawas diri dengan hal-hal yang demikian, karena memang zina itu merupakan akumulasi dari sekian urutan zina-zina kecil yang berawal dari zina mata dan akhirnya terjerumus ke zina besar yang dimaksud dalam kitab-kitab fiqih (dukhul: masuk). Ungkapan Nabi Yusuf as dalam surah Yusuf ayat 3 di atas cukuplah menjadi pegangan pemuda-pemudi zaman ini yang notabene banyak terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau zina.

Kearifan lokal atau budaya dewasa ini tidak lagi dapat menjadi solusi alternatif dalam membina pemuda-pemudi dalam bergaul. Yang menjadi persoalan apakah globalisasi yang notabene menjadi bak pembunuh berdarah dingin yang mampu menghancurkan kearifan lokal khususnya di Indonesia atau kearifan lokal kita sendiri yang kalah saing dengan globalisasi.

 Esensi ibadah
Terlepas dari globalisasi dan kearifan lokal, beribadah (spiritualitas) kepada Allah swt adalah jalan keluar yang tepat bagi pemuda-pemudi dan juga menjadi protektor agar mereka terhindar dari pergaulan bebas yang melanda seluruh negeri saat ini. Esensi dari ibadah adalah ketundukan diri terhadap Sang Pencipta dengan rasa takut, hormat, dan bakti, yang membuat seorang hamba yang dalam hal ini pemuda-pemudi cenderung akan selalu mengingatNya dalam setiap waktu.

Dengan mengingatNya, maka seorang pemuda ataupun pemudi akan selalu terhindar dari segala yang akan menjerumuskan dirinya kepada hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri. Jika tingkat ibadah seorang pemuda telah pada tingkatan baik kemungkinan besar jika dihadapkan dengan Zulaikha masa kini, ia juga akan mengungkapkan kata yang sama seperti yang diungkapkan Nabi Yusuf as yang diabadikan dalam Alquran. Subhanallah!

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw telah dijamin oleh Allah swt akan dimasukkan ke dalam sorga-Nya yang penuh dengan kenikmatan yang luar biasa. Ungkapan Arab yang sangat familiar tentang sorga yang tidak terbayangkan penglihatan, pendengaran, dan tidak (terlintas bentuknya) dengan hati/rasionalitas manusia (al-Jannatu mâ lâ ‘ainun ra at wa lâ udzunun sami’at wa lâ khathara ‘alâ qalbi basyarin).

Meskipun telah dijamin masuk sorga, namun, beliau tetap saja menjalankan ibadah kepada Allah secara maksimal dan optimal. Konon, kaki beliau luka karena terlalu sering beribadah kepadaNya. Beda jauh dengan umatnya yang mungkin kakinya luka bukan akibat terlalu sering beribadah kepada Allah swt, melainkan luka akibat meninggalkan shalat karena bermain bola atau luka karena sebab lain.

Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw perihal mengapa beliau terus beribadah, padahal, beliau telah dijamin sorga. Beliau menjawab: “Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” Kita tentu belum ada jaminan pasti akan masuk surga, sehingga wajib bagi kita untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah swt.

Demikianlah uraian singkat. Semoga dapat menjadi bacaan yang bermanfaat khususnya bagi pemuda-pemudi agar terus memperbaiki diri dengan meneladani Nabi Yusuf as sehingga jika dihadapkan dengan wanita yang menggodanya secara paksa untuk berzina dapat menghindar dan meneladani Nabi Muhammad saw yang telah dijamin surga yang juga selalu bersyukur. Logikanya, jika beliau telah dijamin surga namun ibadahnya getol, maka, kita sebagai pengikutnya harus lebih getol lagi ibadahnya.

Nisaul Khaira al-Faruq, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: annisa_ukm10@yahoo.com
 
 




Powered by Blogger.